Senin, 23 Januari 2012

Manajemen Produksi

A.           Pengetian Manajamen Produksi

Kegiatan-kegiatan manajemen produksi dan operasi-operasi tidak hanya menyangkut pemrosesan (manufacturing) berbagai barang. Tentu saja benar bahwa kegiatan-kegiatan produksi banyak dilaksanakan di perusahaan-perusahaan manufacturing yang membentuk tulang belakang masyarakat konsumen kita melalui produksi berbagai macam produk. Tetapi orang-orang juga melaksanakan kegiatan-kegiatan produksi dalam organisasi-organisasi yang menyediakan berbagai bentuk jasa. Dalam kenyataannya, akhir-akhir ini berkembang cukup pesat usaha-usaha produktif di sektor jasa. Organisasi-organisasi penyedia jasa seperti bisnis perbankan, asuransi, transportasi, hotel dan restauran memproduksi jasa (pelayanan) sebanding dengan perusahaan-perusahaan manufacturing memproduksi mobil, perabot, dan makanan dalam kaleng.

Atas dasar perkembangan tersebut, istilah manajemen praduksi yang telah banyak dipakai sebelumnya (sampai sekarang) secara meluas, dipandang kurang mencakup seluruh kegiatan sistem sistem pro duktif dalam masyarakat ekonomi kita. Oleh karena itu, diperlukan suatu istilah yang lebih tepat dan mempunyai cakupan luas, seperti manajemen operasi (sccara implisit berarti operasi-operasi). Istilah ini telah mulai digunakan oleh sejumlah penulis dan praktisi. Meskipun demikian, pada masa transisi, istilah yang sering digunakan adalah manajemen produksi/operasi (P/O) atau manajemen produksi dan operasi. Bagaimanapun , untuk mempermudah penyajian, istilah-istilah manajemen produksi, manajemen operasi, dan manajernen produksi/operasi atau manajemen produksi dan operasi akan digunakan dengan saling dapat dipertukarkan atau mempunyai pengertian yang sama.

Manajemen produksi dan operasi merupakan  usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi) — tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya — dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa Para manajer produksi dan operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen.

B.                 Jenis-jenis Sistem Produksi

Ada 2 sudup pandang yang mengklasifikasikan jenis-jenis produksi,yaitu :

1.    Sistem Produksi Menurut Tujuan Operasinya
          Dilihat  dari  tujuan  perusahaan  melakukan  operasinya  dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan konsumen, maka sistem produksi dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:

a.    Engineering-to-Order  (ETO),  yaitu  bila  pemesa  meminta  produsen  untuk membuat produk yang dumilai dari proses perancangannya (rekayasa). 
b.    Assembly-to-Order  (ATO),  yaitu  bila  produsen  membuat  disain  standar, modul-modul  operasional  satandar  yang  sebelumnya  dan  merakit  suatu kombinasi  tertentu  dari  modul-modul  tersebut  sesuai  dengan  pesanan komsumen. Modul-modul standar tersebut bisa dirakit untuk berbagai tipe produk.  Contohnya  adalah  pabrik  mobil,  dimana  mereka  menyediakan pilihan  transmisi  secara  manual  atau  otomatis,  AC,  audio.  Opsi-opsi interior  dan  opsi-opsi  mesin  khusus  sebagaimana  juga  model  bodi  dan warna  bodi  yang  khusus.  Komponen-komponen  tersebut  telah  disiapkan terlebih  dahulu  dan  akan  mulai  diproduksi  begitu  pesanan  dari  agen datang.
c.    Make-to-Order  (MTO),  yaitu  bila  produsen  menyelesaikan  item  jika  dan hanya  jika  telah menerima  pesanan  konsumen  untuk  item  tersebut.  Bila item  tersebut  bersifat  unik  dan mempunyai  disain  yang  dibuat  menurut pesanan,  maka  konsumen  mungkin  bersedia menunggu  hingga  produsen dapat menyelesaikan.
d.   Make-to-Stock  (MTS),  yaitu  bila  produsen  membuat  item    item    yang diselesaikan  dan  ditempatkan  sebagai  persediaan  sebelum  pesanan konsumen  diterima.  Item  akhir  tersebut  baru  akan  dikirim  dari  sistem persediaannya setelah pesanan konsumen diterima.

2.     Sistem Produksi Menurut Aliran Operasi dan Variasi Produk

Dalam kegiatan desain produk,  tiotik berat perhatian kita adalah pada masalah apa  yang  diproduksi,  sedangkan  untuk  kegiatan  disain  proses penekanannya adalah pada bagaimana kita memproduksi. Kriteria  terpenting dalam mengklasifikasikan proses produksi adalah jenis aliran operasi dari unit-unit produk yang melalui tahapan konversi. Ada tiga jenis dasar aliran operasi, yaitu  flow shop,  job shop dan project  (Kontas, 1982). Ketiga  jenis dasar aliran operasi ini berkembang menjadi aliran operasi modifikasi dari ketiganya, yaitu batch dan continuous. Adapun karakteristik dari masing-masing aliran operasi tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Flow Shop, yaitu proses konversi di mana unit-unit output secara berturut – turut   melalui  urutan  operasi  yang  sama  pada mesin  – mesin    khusus, biasanya ditempatkan sepanjang suatu lintasan produksi. Proses jenis ini  biasanya  digunakan  untuk  produk  yang  mempunyai  disain  dasar  yang tetap sepanjang waktu yang  lama dan ditujukan untuk pasar yang  luas, sehingga diperlukan penyusunan bentuk proses produksi  flow  shop  yang biasanya bersifat MTS (Make – to – Stock).
b.   Job  Shop,  yaitu  merupakan  bentuk  proses  konversi  di  mana  unit-unit untuk  pesanan  yang  berbeda  akan mengikuti urutan  yang berbeda pula dengan  melalui  pusat-pusat  kerja  yang  dikelompokkan  berdasarkan fungsinya. Volume produksi setiap jenis produk sedikit, variasi produknya banyak, lama proses produksi setiap jenis produk agak panjang, dan tidak ada  lintasan  produksi  khusus.  Job  shop  ini  bertujuan  memenuhi kebutuhan  khusus  konsumen,  jadi biasanya bersifat MTO  (Make    to – Order  ). 
c.    Batch, yaitu merupakan bentuk satu langkah ke depan dibandingkan  job shop  dalam  hal  standarisasi  produk,  tetapi  tidak  selalu  terstandarisasi seperti produk yang dihasulkan pada aliran lintasan perakitan flow shop. Sistem  batch  memproduksi  banyak  variasi  produk  dan  volume,  lama proses  produksi  untuk  setiap  produk  agak  pendek,  dan  satu  lintasan produksi  dapat  dipakai  untuk  beberapa  tipe  produk.  Tetapi, volume batch yang  lebih banyak dapat diproses secara berbeda misalnya, memproduksi beberapa batch lebih untuk tujuan MTS dibandingkan MTO.

d.   Project, yaitu merupakan proses penciptaan suatu jenis produk yang agak rumit  dengan  suatu  pendefenisian  urutan  tugas    tugas    yang  teratur akan kebutuhan sumber daya dan dibatasi oleh waktu penyelesaian. Pada jenis  proyek  ini,  beberapa  fungsi-fungsi  yang  mempengaruhi  produksi seperti  perencanaan,  desain,  pembelian,  pemasaran,  penambahan personal/mesin (yang biasanya dilakukan secara terpisah pada sistem job shop  dan  flow  shop) harus  diintegrasikan  sesuai    dengan  urutan-urutan waktu penyelesaian, sehingga dicapai penyelesaian yang ekonomis.

C.                Perencanaan Sistem Produksi

Fungsi produksi adalah suatu bagian fungsi yang ada pada perusahaan yang bertugas untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang diperlukan bagi terselenggaranya proses produksi. Dengan mengatur kegiatan itu maka diharapkan proses produksi akan berjalanlancar dan hasil produksi pun akan bermutu tinggi sehingga dapat diterima oleh masyarakat pemakainya. Fungsi produksi merupakan salah satu bagian dari perencanaan system produksi. Bagian produksi dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian akan tetapi bersama-sama dengan bagian-bagian lain seperti bagian pemasaran, bagian keuangan serta bagian akuntansi. Oleh karena itu haruslah diadakan koordinasi kerja agar semua bagian dapat berjalan seiring dan seirama dan dapat dihindarkan benturan – benturan kepentingan antar bagian dalam perusahaan.

Tugas utama dari bagian produksi dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan perusahaan secara umum adalah berusaha mencapai biaya produksi yang rendah, mutu produk yang tinggi, tanggapan yang cepat atas permintaan, dan fleksibilitas untuk membuat beragam barang yang sesuai dengan selera dan spesifikasi pelanggan (Amirullah, 2002) . Fungsi-fungsi operasi yang akan dibahas di sini meliputi ;

1.    Perencanaan dan desain produk
Ada beberapa hal yang akan kita bahas dalam perencanaan dan desain produk. Hal –hal tersebut sebagai berikut :
a.     Siklus Hidup Produk(Product Life Cycles)
Perancangan  atau  pengembangan  produk  dibutuhkan  oleh  produsen dalam rangka mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar dengan cara mengidentifikasi  kebutuhan-kebutuhan  konsumen  akan  manfaat  produk, mendesainnya,  sampai  ke  tingkat  perencanaan  pembuatan  produk  tersebut.  Hal ini berkaitan erat pula dengan siklus hidup produk tersebut.  Perancangan yang baik akan menghasilkan produk unggulan yang sesuai dengan keinginan atau  kebutuhan  customer.   Karenanya  perancangan  yang  baik membutuhkan input dari berbagai sisi dengan melibatkan berbagai disiplin imu. Ada empat tahapan dalam siklus hidup produk sebagai berikut :
1)   Tahap  I  adalah  tahap  pengenalan.  Pada  tahap  ini  suatu  produk  baru diperkenalkan kepada konsumen melalui uji coba pemasaran. Berbagai promosi dilakukan  untuk  memperkenalkan  produk  tersebut.  Dengan  demikian  biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dibandingkan pendapatan yang diperoleh. 
2)   Pada Tahap II, yang merupakan tahap pertumbuhan dengan percepatan, penjualan  produk  akan  meningkat  pesat.  Hal  ini  disebabkan  oleh  respon konsumen  terhadap  produk  tersebut  sudah  semakin  positif.  Pada  tahap  ini pendapatan yang diperoleh juga sangat besar. 
3)   Tahap  III  merupakan  tahap  pendewasaan.  Pada  tahap  ini  penjualan produk  akan  mencapai  titik  kejenuhan  di  mana  penjualan  produk  hanya berkisar pada suatu titik tertentu. Umumnya cara-cara promosipun tidak akan bisa untuk mendongkrak tingkat penjualan. 
4)   Tahap  IV  merupakan  tahap  kemunduran  dan  akhir  dari  produk tersebut.  Jika  produsen  tidak  berupaya  melakukan  inovasi  maka  produk tersebut akan mati begitu saja.

b.    Pengembangan Produk Baru
    Langkah    langkah    dalam mengembangkan  produk  baru  antara  lain, yaitu :
1)   Pengembangan Ide
 Dapat  dikembangkan  dari  pasar  atau  dari  teknologi.  Ide  pasar  diperoleh dari  kebutuhan  pelanggan.  Identifikasi  dari  kebutuhan  pasar  ini  akan menghasilkan  pengembangan  teknologi  dan  produk  baru  untuk  memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada sisi lain, ide dapat timbul dari teknologi yang ada atau yang baru. Pendayagunaan  teknologi  merupakan  sumber  yang  kaya  akan  ide-ide  untuk produk baru.
2)   Disain Produk
Tahapan  ini  memperhatikan  terhadap  pisik  produk  baru.  Proses  disain produk pada tahan ini berkaitan dengan pengembangan disain terbaik dari ide produk baru. Jika disain awal ini disetujui, dapat dibuat sebuah atau beberapa prototype untuk pengujian dan nalisis lebih lanjut. Dalam disain awal, banyak sekali  dipertimbangkan  akan  tradeoff  antara  biaya,  kualitas  dan performansi produk.  Hasilnya  merupakan  suatu  rancangan  produk  yang  memiliki  daya saing dalam pasar dan dapat diproduksi. 
3)   Pengujian
Pegujian  prototype bertujuan  untuk mengesahkan  penampilan  pemasaran dan  teknis.  Satu  cara  untuk  menilai  performansi  pasar adalah  membuat sejumlah prototype  yang  cukup untuk mendukung uji pasar dari produk baru tersebut.  Maksud  dari  pengujian  pasar  adalah  untuk  mengumpulkan  data kuantitatif dari tanggapan pelanggan mengenai produk tersebut. Prototipe juga diuji untuk mengetahui performansi teknis produk yang bersangkutan.  Selama  tahap  disain  akhir,  gambar  dan  spesifikasi  produk dikembangkan. Sesuai dengan hasi pengujian prototype, perubahan-perubahan tertentu  dapat  digabungkan  menjadi  disain  akhir.  Jika  terdapat  perubahan, produk dapat diuji  lebih  lanjut  untuk memastikan performansi  produk  akhir. Selanjutnya  pada  penyelesaian  spesifikasi  disain  sehingga  produksi  dapat dilaksanakan. Akan  tetapi  bagian  penelitian  dan pengembangan  tidak  hanya mengemnbangkan  spesifikasi  desain  untuk  operasi,  tetapi  jugaharus  dapat memastikan  bahwa  produk  memungkinkan  untuk  diproduksi.  Informasi  ini harus berisi rincian mengenai teknologi, data pengendalian kualitas, tata cara pengujian performansi produk dan  sejenisnya.

c.    Strategi Pengenalan Produk
    Terdapat tiga cara mencasar untuk meninjau proses pengenalan produk
baru, yaitu : 
1)   Menarik-pasar (Market Pull).
Menurut  pandangan  ini  “anda  harus  membuat  apa  yang  dapat  dijual”. Dalam  hal  ini  produk  baru  ditentukan  oleh  pasar  dengan  sedikit  perhatian terhadap  kebradaan  teknologi  dan  proses  operasi.  Kebutuhan  pelanggan merupakan dasar utama untuk pengenalan produk baru. 
2)      Mendorong-teknologi (Technology-Push)
Pendekatan  ini  menyarankan  bahwa  “anda  harus  menjual  apa  yang andadapat  buat”  Dengan  demikian  produk  baru  diperoleh  dari  teknologi produksi,  dengan  sedikt  perhatian  terhdap  pasar.  Ini  merupakan  pekerjaa pemasaran untuk menciptakan pasar dan ernjal produk yang dibuat.
3)      Antarfungsional (Interfunctional in nature)
  Dalam  pandangan  ini,  pengenalan  produk  baru  adalah  bersifat antar fungsional  dan  membutuhkan  kerjasama  diantara  pemasaran,  operasi, teknik dan  fungsi  lainnya. Proses  pengembagan  produk  baru  tidak  dilakukan dengan  menarik  pasar  ataupun  mendorong-teknologi  tetapi  ditentukan  oleh usaha  antar  fungsi  yang  terkoordinasi.  Hasilnya  merupakan  produk  yang memenuhi  kebutuhan  pelanggan  dengan  penggunaan  teknologi  yang memberikan keuntungan terbaik

2.    Perencanaan kapasitas
Perencanaan kapasitas adalah proses penentuan jumlah TK, mesin, dan fasilitas fisik lainnya yg diperlukan untuk mcapai sasaran keluaran tertentu. Manajemen operasi juga menekannkan pentinnya dimensi waktu kapasitas. Kapasitas umumnya dibedakan menjadi tiga yaitu :
a.    Perencanaan kapasitas jangka panjang
Dimana sumber daya-sumber daya produktif memakan waktu untuk memperoleh atau menyelesaiakannya, seperti bangunan,peralatan atau fasilitas. Perencanaan kapasitas jangka panjang memerlukan partisipasi dan persetujuan manajemen puncak.
b.    Perencanaan kapasitas jangka menengah
Merupakan rencana-rencana bulan atau kuartalan untuk jangka waktu 6 sampai 18 yang akan dating. Dalam hal ini, kapasitas dapat bervariasi karena alternative-alternatif seperti penarikan tenaga kerja, pemutusan tenaga kerja,peralatan-peralatan baru dan pembelian peralatan-peralatan bukan utama.
c.    Perencanaan jangka pendek
Perncanaan yang dilakukan dalam jangka waktu kurang dari satu bulan. Ini dikaitkan pada proses penjadwalan harian atau mingguan dan menyangkut pembuatan penyesuain-penyesuain untuk menghapuskan “variance” antara keluaran yang direncanakan dan keluaran nyata. Keputusan perencanaan mencakup alternative-alaternatif seperti kerja lembur,pemindahan personalia.
Seringkali   perusahaan   dihadapkan   pada   kenyataan   mengenai   perlunya   menambah kapasitas  produksi.  Penambahan atau peningkatan kapasitas  produksi  dapat  dilakukan dengan beberapa alternatif, seperti :
1)   Penambahan jumlah mesin atau karyawan
2)      Penambahan jumlah jam kerja atau lembur
3)      Penambahan luas perusahaan
4)      Memaksimalkan kapasitas mesin dan sumber daya lainnya
5)      Kombinasi dari alternatif yang ada

3.    Perencanaan fasilitas fisik Produk
Perencanaan fasilitas fisik produk adalah merupakan suatu proses integrasi dimana semua aspek produktifitas harus dipertimbangkan dengan masak. Fasilitas fisik perusahaan misalnya, gedung, tempat bekerja, mesin dan sebagainya. Fasilitas fisik perusahaan tersebut termasuk perencanaan fasilitas fisik peerusahaan.
a.    Lokasi
Faktor-faktor penting yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi masing-masing perusahaan berbeda. Bagi suatu perusahaan mungkin faktor terpenting adalah dekat dengan pasar. Tetapi mungkin yang lebih penting bagi perusahaan lain adalah dekat dengan sumber-sumber penyediaan bahan dan komponen. Jadi, alasan utama terjadinya perbedaan dalam pemilihan lokasi adalah adanya perbedaan kebutuhan masing-masing perusahaan. Secara umum faktor-faktor yang perlu di pertimbangkan dalam pemilihan lokasi perusahaan:
1)   Lingkungan Masyarakat, kesediaan masyarakat suatu daerah menerima segala konsekuensi, baik konsekuensi positif maupun negatif didirikannya suatu pabrik di daerah tersebut merupakan suatu syarat penting. Perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai lingkungan dan ekologi di mana perusahaan akan berlokasi, karena pabrik.pabrik sering memproduksi limbah dalam berbagai bentuk air, udara, atau limbah zat padat yang telah tercemar, dan sering menimbulkan suara bising. Di lain pihak, masyarakat membutuhkan industri atau perusahaan karena menyediakan berbagai lapangan pekerjaan dan uang yang dibawa industri ke masyarakat. Lingkungan masyarakat yang menyenangkan bagi kehidupan para karyawan eksekutif juga memungkinkan mereka melakukan pekerjaan dengan lebih baik.
2)   Kedekatan dengan pasar,  Dekat dengan pasar akan membuat perusahaan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepara langganan, dan sering mengurangi biaya distribusi. Perlu dipertimbangkan juga apakah pasar perusahaan tersebut ataukah hanya melayani sebagian kecil masyarakat, produk mudah rusak atau tidak, berat produk, dan proporsi biaya distribusi barang jadi pada total biaya, perusahaan besar dengan jangkauan pasar yang luas, dapat mendirikan pabrik-pabriknya di banyak tempat yang tersebar untuk mendekati pasar.
3)   Tenaga kerja. Di manapun lokasi perusahaan, harus mempunyai tenaga kerja, karena itu cukup tersedianya tenaga kerja merupakan hal yang mendasar. Bagi banyak perusahaan sekarang kebiasaan dan sikap calon pekerja suatu daerah lebih penting dari ketrampilan dan pendidikan, karena jarang perusahaan yang dapat menemukan tenaga kerja baru yang telah siap pakai untuk pekerjaan yang sangat bervariasi dan tingkat spesialisasi yang sangat tinggi, sehingga perusahaan harus menyelenggarakan program latihan khusus bagi tenaga kerja baru. Orang-orang dari suatu daerah dapat menjadi tenaga kerja yang lebih baik dibanding dari daerah lain, seperti tercermin pada tingkat absensi yang berbeda dan semangat kerja mereka. Disamping itu, penarikan tenaga kerja, kuantitas dan jarak, tingkat upah yang berlaku, serta persaingan antar perusahaan dalam memperebutkan tenaga kerja yang berkualitas tinggi, perlu diperhatikan perusahaan.
4)   Kedekatan dengan bahan mentah dan supplier. Apabila bahan mentah berat dan susut cukup besar dalam proses produksi máka perusahaan lebih baik berlokasi dekat bahan mentah, misal pabrik semen, kayu, kertas dan baja. Tetapi bila produk jadi lebih berat, besar, dan bernilai rendah maka lokasi dipilih sebaliknya. Begitu juga bila bahan mentah lekas rusak, seperti perusahaan buah-buahan dalam kaleng, lebih baik dekat bahan-bahan mentah. Lebih dekat dengan bahan mentah dan para penyedia (supplier) memungkinkan suatu perusahaan mendapatkan pelayanan supplier yang lebih baik dan menghemat biaya pengadaan bahan.
5)   Fasilitas dan biaya transportasi. Tersedianya fasilitas transportasi baik lewat darat, udara dan air akan melancarkan pengadaan faktor-faktor produksi dan penyaluran produk perusahaan. Pentingnya pertimbangan biaya transportasi tergantung “sumbangan” nya terhadap total biaya, contoh untuk perusahaan komputer yang biaya transportasinya hanya sekitan 1 atau 2% dan total biaya, tidak jadi masalah di manapun lokasi perusahaan berada dibanding bagi perusahaan semen. Untuk banyak perusahaan perbedaan biaya transportasi tidak sepenting perbedaan upah tenaga kerja. Dekat dengan bahan mentah akan mengurangi biaya pengangkutan bahan mentah, tetapi biaya pengangkutan Pengiriman produk jadi meningkat. Sebaliknya, lokasi dekat pasar akan menghemat biaya pengangkutan produk jadi tetapi menaikkan biaya pengangkutan bahan mentah.
6)   Sumber daya-sumber daya (alam) lainnya. Perusahaan-perusahaan seperti pabrik kertas, baja, karet, kulit, gula, tenun, pemrosesan makanan, alumunium dan sebagainya sangat memerlukan air dalam kuantitas yang besar. Selain itu hampir setiap industri memerlukan baik tenaga yang dibangkitkan dari aliran listrik, disel, air, angin dan lain-lain. Oleh sebab itu perlu diperhatikan tersedianya sumber daya-sumber daya (alam) dengan murah dan mencukupi.

b.    Layout Produksi
Layout fasilitas produksi adalah perencanaan optimum tentang pengaturan dan penempatan mesin-mesin,peralatan pabrik, tempat kerja, tempat penyimpanan dan kegiatan-kegiatan lain dalam proses produksi perencanaan dan penetuan jenis serta bentuk banguna gedung perusaan (pabrik). Factor-faktor yang mempengaruhi efisiensi lay out fasilitas produksi :
1)   Jarak angkut yang minimum
Jarak angkut yang minimum tesebut meliputi jarak angkut dari bahan mentah, bahan setengah jadi dan barang jadi yang dipindahkan dari tempat terakhir proses produksi ke tempat penyimpanan (pergudangan) dan dari tempat penyimpan sampai ke pasar. Jarak dari bahan mentah sampai tiba di pasar harus benar-benar seminimum mungkin.
2)   Fleksibel ruangan dan layout
Berhubungan dengan perubahan teknologi yang terjadi dengan adanya perubahan teknologi yang tidak terlalu drastic seharusnya letak ruangan dan layoutnya dapat diatur kembali sehingga perminntaan pasar yang berubah sedikit dapat diatasi.
3)   Kemungkinan perluasan di waktu yang akan datang
Untuk menjaga kemungkinan terjadinya ekspansi perusahaan yang secara sekaligus perlu memperluas usaha, pabrik tanpa terkecuali perluasan layout fasilitas produksi.
4)   Pemaksimuman ruangan dan layout
Pembangunan yang telah dilaksanakan berdasarkan perencanaan bangunan maupun layoutnya harus benar-benar mencerminkan penggunaan ruangan yang maksimal sehingga tidak terdapat mesin-mesin yang menganggur maupun ruangan yang sudah terpakai.
5)   Keselamatan barang yang diangkut bahan mentah, bahan penolong dan barang jadi.

Ada 4 (empat) pola dasar umum layout yaitu:

1)  Layout Fungsional
Layout fungsional (kadang-kadang disebut layout “proses” atau ‘job lot”) adalah pengelompokan bersama mesin-mesin dan personalia untuk melaksanakan pekerjaan yang serupa atau sejenis. Penggilingan dilakukan di suatu departemen penggilingan, pengecatan di departemen -pengecatan, pemrosesan data di departemen komputer, dan tagihan dibayar di departemen hutang.Kebaikan layout fungsional. Layout fungsional menghasilkan penggunaan spesialisasi mesin dan personalia yang paling baik. Departemen-departemen fungsional juga fleksibel dan dapat memproses bermacam-macam produk. Mesin-mesinnya serbaguna, di mana biasanya memerlukan biaya lebih kecil disbanding mesin-mesin khusus. Produk-produk atau jasa-jasa yang memerlukan operasi yang berbeda-beda dapat dengan mudah mengikuti jalur berbeda melalui fasilitas-fasilitas produksi.
2)      Layout Produk
Layout produk atau sering disebut layout “garis”, berarti bahwa kebutuhan-kebutuhan operasi produk mendominasi dan menentukan layout mesin-mesin dan peralatan-peralatan lainnya.  Produk bergerak, biasanya terus menerus, mengikuti garis ban berjalan melalui tempat-tempat kerja di mana orang-orang dan/atau mesin-mesin melakukan pekerjaan yang menghasilkan produk akhir.
3)      Layout Kelompok
Pengaturan tata letak fasilitas pabrik ke dalam daerah-daerah atau kelompok mesin bagi pembuatan produk yang memerlukan pemrosesan yang sama. Setiap produk diselesaikan pada daerah tersendiri dengan seluruh urutan pengerjaan dilakukan pada tempat tersebut.
4)      Layout Posisi Tetap
Pengaturan material atau komponen produk yang dibuat akan tinggal tetap pada posisinya, sedangkan fasilitas produksi  seperti peralatan, perkakas, mesin-mesin,  manusia serta komponen kecil lainnya akan bergerak/berpindah menuju lokasi material atau komponen produk utama tersebut.

D.                Pengendalian Produksi
1.    Pengertian
Pengendalian produksi adalah berbagai kegiatan dan metoda yang digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengelola, mengatur, mengkoordinir dan mengarahkan proses produksi (peralatan, bahan baku, mesin, dan tenaga kerja) ke dalam suatu arus aliran yang memberikan hasil dengan jumlah biaya yang seminum mungkin dan waktu yang secepat mungkin.Pengendalian produksi yang dilaksankan pada perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain akan berbeda-beda tergantung pada system dan kebijaksanaan  perusahaan yang digunakan. Pengendalian produksi dapat dilakukan :
a.    Order Control
Perusahaan yang beroperasi berdasarkan pesanan dari konsumen sehingga kegiatan operasionalnya juga tergantung pada pesanan tersebut.
b.    Flow control
Perusahaan ynag beroperasi untuk menghasilkan produk standar sehingga sebagian produk merupakan produk untuk persediaan dalam jumlah yang besar.
             
2.    Tahap Dalam Pengendalian Produksi

a.    Production Forecasting
Production forecasting adalah peramalan produksi untuk mengetahui jumlah dan manfaat produksi yang akan dibuat di masa yang akan datang, sehingga kalau terjadi penyimpangan akan cepat diadakan penyesuaian produksi di masa akan datang. Dengan melaksanakan peramalan produksi, perusahaan dapat menyusun anggaran operasionalnya untuk pedoman kerja, penggunaan kapasitas prouksi seoptimal mungkin, menstabilisasi kesempatan kerja karena terdapatnya kestabilan dan kepastian jumlah produksi di masa yang akan datang.
b.    Routing
Routing adalah kegiatan untuk menentukan urut-urutan proses dan penggunaan alat produksinya dari bahan mentah sampai menjadi prouk akhir, sehingga sebelum produksi dimulai masalah sudah tercantum pada rout sheet.
c.    Scheduling
Scheduling adalah kegiatan untuk membuat jadwal proses produksi sebagai satu kesatuan dari awal proses sampai selesainya. Scheduling ini dilaksanakan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan setiap tahap pemrosesan sesuai dengan urutan routenya. Oleh karena itu, untuk membantu keberhasilan tahap ini lebih baik melakukan “time and motion study” sehingga  dapat ditentukan standar hasil kerjanya.
d.   Dipatching
Dispatching adalah suatu proses untuk pemberian perintah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan routing dan scheduling yang dibuat.
e.    Follow up
Follow up adalah kegiatan untuk menghilangkan terjadinya penundaan/keterlambatan kerja dan mendorong terkoordinasi pelaksanaan kerja.

3.    Pengendalian persediaan bahan baku

Bahan baku merupakan salah satu faktor pembentuk terjadinya barang jadi,sehingga segala sesuatu yang menyangkut bahan baku harus benar-benar diperhatikan. Dengan adanya pengendalian bahan baku maka perusahaan akan berusaha untuk menyediakan bahan baku yang diperlukan dalam proses produksi sedemikian rupa agar barjalan dengan lancar tanpa terjadi kekurangan persediaan atau kelebihan persediaan. Cara untuk menentukan jumlah bahan baku yang perlu disediakan adalah menggunakan analisis EOQ (Economical Order Quantity). Dengan kata lain, perusaahan akan mempunyai persediaan yang paling menguntungkan jika melakukan pemesanan yang ekonomis. Faktor-faktor yang mempengaruhi EOQ adalah sebagai berikut ;
·         Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun (B)
·         Biaya pemesanan (BP)
·         Biaya penyimpanan (BS)
·         Harga bahan baku (H)
Sehingga ,bila dijadikan dalam suatu rumus EOQ adalah :
Jumlah pemesanan ekonomis =
4.    Pengendalian kualitas

Pengendalian kualitas merupakan suatu proses untuk menentukan barang-barang yang rusak  dan diusahakan dikurangi serta mempertahankan barang-barang yang sudah baik kemudian mengontrol agar hasil produksi di waktu yang akan datang tidak lagi mengalami penurunan kualitas atau kerusakan. Pengendalian kualitas baik proses produksi yang berlangsung secara terus-menerus ataupun proses produksi yang terputus-putus relative sama, dimana di dalamnya mempunyai kegiatan sebagai berikut ;
a.    Menentukan standar kualitas baik dalam hal ukuran, daya tahan , warna, bentuk, harga dan sebagainya dengan memakai peralatan  yang standar.
b.    Mencari pemeriksaan atau controller yang mempunyai kecakapan yang dibutuhkan baik mengenai pemakaian peralatannya maupun pemeliharaannya.
c.    Tujuan pengendalian kualitas adalah untuk meminimumkan biaya proses produksi sehingga dananya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih produktif

5.    Pengendalian biaya produksi

Pengendalian biaya produksi dilakukan untuk mengetahui berapa besarnya volume penjualan yang menghasikan keuntungan, kerugian atau hanya cukup untuk menutup biaya total yang telah dikeluarkan perusahaan. Cara yang digunakan untuk menganalisis seluruh biaya yang diperlukan dan berapa pendapatan yang diterima perusahaan beserta hasil keuntungan yang diperoleh perusahaan,dapat digunakan rumus Break Even Point.



0 komentar:

Posting Komentar